Sabtu, 24 Maret 2012

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Konsep Kesehatan Mental


SEJARAH KESEHATAN MENTAL
Kesehatan mental? jika mendengar dua kata tersebut, mungkin banyak orang yang belum mengerti apa itu kesehatan mental dan bagaimana asal usul atau sejarahnya sampai ada pembelajaran tentang kesehatan mental khususnya bagi ilmu psikologi.
Sejarah kesehatan mental tidak seperti sejarah ilmu kedokteran yang dengan jelas tergambarkan. Hal itu disebabkan karena “Mental” adalah sesuatu yang tidak dapat dengan jelas terlihat oleh kasat mata. Sedangkan gangguan fisik dapat dengan mudah kita lihat dan dapat dengan mudah terdeteksi. Individu yang terkena gangguan kesehatan mental sangat sulit untuk diketahui, bahkan bagi orang terdekatnya sekalipun. Karena orang-orang yang terdekatnya hanya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Di negara kita khususnya masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental sampai saat ini belum terlalu mendapatkan perhatian yang serius. Semua itu dikarenakan taraf pendidikan yang masih beragam dan budaya yang beragam pula sehingga membawa dampak kurangnya kepekaan masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.
Berikut ini perkembangan sejarah kesehatan mental :
GANGGUAN MENTAL TIDAK DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
·         Pada Tahun 1600 dan Sebelumnya
Suku asli Indian khususnya dukun indian menyimpulkan, orang yang mengalami gangguan mental dapat disembuhkan dengan cara menggunakan kekuatan supranatural dan menjalani ritual penyucian.
Masyarakat indian pada saat itu mengaggap orang yang terkena gangguan mental itu sebenarnya orang yang kemasukan roh-roh yang ada di sekitar mereka. Mereka menganggap kalau orang yang bersangkutan telah melakukan kesalahan sehingga kemasukan roh. Maka dari itu orang Indian tidak menganggap orang yang terkena gangguan mental itu berarti sakit, sehingga mereka tetap masih dapat tinggal hidup bersama.
·         Tahun 1692
Sejarah kesehatan mental di Eropa (Inggris), sedikit berbeda dengan sejarah di waktu sebelumnya.
John Locke (1690), menyatakan bahwa terdapat derajat kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secara tepat.
GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI SAKIT
·         Tahun 1724
Pada abad ke 19, Phillipe Pinel di Perancis dan Dorothea Dix, membuat lompatan besar dengan mempromosikan penanganan manusiawi bagi penderita penyakit mental tetapi kondisinya masih jauh dari ideal. Phillipe pinel ditunjuk sebagai dokter yang mengawasi pasien rumah sakit jiwa. Dia tidak merantai orang yang sakit jiwa.

·         Tahun 1812
Antara tahun 1830-1860 di Inggris timbul optimisme dalam menangani pasien skit jiwa. Pada masa ini tumbuh kepercayaan bahwa penanganan di rumah sakit jiwa merupakan hal yang benar dan cara ilmiah untuk menyembuhkan kegilaan. Pada tahun 1842 psikiater mulai masuk dan mendapatkan peranan penting di rumah sakit untuk menggantikan ahli hukum yang selama itu berperan. Namun  karena penanganan di masa ini banyak menemukan kegagalan, maka tidak lama muncul terapi pesimisme.

·         Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit, tetapi hanya ada 2561 tempat tidur yang tersedia untuk menangani penyakit mental di Amerika Serikat.

·         Tahun 1908
Ditahun ini seseorang yang mengalami gangguan mental mendapat penanganan di rumah sakit yang tidak manusiawi dan mengalami penyiksaan fisik dan mental dibawah kekuasaan yang tidak terlatih dan tidak kompeten dirumah sakit.
·         Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clark di Worcester, Massachusetts.

·         Tahun 1910
Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsi.

·         Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya orang yang btelah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa.
·         Tahun 1930
Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizofrenia.

·         Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai lobotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya antara tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20000 prosedur pembedahan ini digunakan terhadap pasien mental Amerika.

·         Tahun 1940
­­Elektroterapi, yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali digunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental.

·         Tahun 1947
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.

·         Tahun 1950
Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang nerupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundatio, dan Psychiatric Foundation.

·         Tahun 1952
Obat antipsikokotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenalkan untuk menangani pasien schizofrenia dan gangguan mental utama lainnya.

·         Tahun 1960
Obat-obat antipsikotik konvensional, seperti haloperidol, digunakan pertama kali untuk mengontrol simtom-simtom yang positif pada penderita psikosis, yang memberikan ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang.
Media inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalaman mereka. Segala hal yang tabu mulai diungkap secara umum.
GANGGUAN MENTAL DIANGGAP SEBAGAI BUKAN SAKIT
·         Tahun 1961
Thomas Szasz membuat tulisan berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukakan dasar teori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah benar-benar “sakit’, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.

·         Tahun 1962
Ada 422000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.
·         Tahun 1970
Mulainya deinstitusionalisasi massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi pasien yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kembali ke masyarakat.

·         Tahun 1979
NAMH menjadi the National Mental Health Association (NMHA).

·         Tahun 1980
Munculnya perawatan yang terencana, yaitu dengan opname di rumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental.
MELAWAN DISKRIMINASI TERHADAP GANGGUAN MENTAL
·         Tahun 1990
NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi pada beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi publik, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan lokal.

·         Tahun 1994
Obat antipsikotik atipikal yang pertama diperkenalkan. Ini merupakan obat antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan obat-obatan konvensional.

·         Tahun 1997
Peneliti menemukan kaitan genetik pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan.
Berdasarkan sejarah kesehatan mental tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata pandangan masyarakat terhadap apa yang disebut sebagai sakit mental atau sakit jiwa ternyata berbeda-beda dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Makna gangguan mental yang berbeda-beda membawa implikasi yang berbeda juga dalam menangani individu yang terkena gangguan mental.
Gangguan mental juga bisa dinamakan bukan penyakit, tetapi sebagai tindakan kriminal seperti yang pernah dipahami oleh masyarakat Inggris. Penderitanya dimasukkan ke dalam penjara.
Gangguan mental pernah dinamaknai sebagai ketidakmampuan untuk berpikir rasional. Orang yang terganggu mentalnya dipandang memiliki pola pikir irasional. Hal ini dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme dan empirisme yang saat itu memiliki pengaruh yang kuat di Eropa.

KESIMPULAN :
Sejarah kesehatan mental merupakan cerminan pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan perlakuan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap gangguan mental di dunia Barat, yaitu :
1.      Akibat kekuatan supranatural
2.      Kemasukan roh atau setan
3.      Dianggap kriminal karena memilih derajad kebinatangan yang besar
4.      Dianggap memiliki cara berpikir irasional
5.      Dianggap sakit
6.      Merupakan reaksi terhadap tekanan atau stres, merupakan perilaku maladaptif
7.      Melarikan diri dari tanggungjawab
KONSEP KESEHATAN MENTAL
A.    Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Sehat dan Sakit serta Implikasinya terhadap Perilaku
1.      Arti Sehat
Menurut Freund (1991), berdasarkan kutipan the International Dictionary of Medicine and Biology, kesehatan adalah suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit, juga sampai pada kesimpulan mengenai kesehatan sebagai suatu keadaan tidak adanya penyakit sebagai salah satu ciri kalau organisme disebut sehat.
2.      Pengaruh Budaya terhadap Konsep Kesehatan
Pengaruh budaya juga merupakan penentu konsep kesehatan. Hal ini mengacu pada pengertian kesehatan yang dibuat oleh WHO, yaitu kesehatan adalah keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.pengertian itu berdampak kebijakan di bidang kesehatan mengalami perubahan.
Berbagai teknologi modern ditemukan sehingga berbagai macam penyakit dan gangguan lainnya bisa diatasi. Saat ini usaha-usaha itu mengalami pergeseran. Upaya kesehatan saat ini mengacu kepada usaha pencegahan terhadap kemungkinan menurunnya kualitas hidup individu sehingga kondisi sehat bisa dijaga sedemikian rupa dan penyakit tidak sampai dialami oleh individu. Bidang-bidang baru mulai bermunculan, seperti sosiologi kesehatan, antropologi kesehatan, psikologi kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Perhatian mengenai kesehatan dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya juga menjadi salah satu bidang kajian yang diminati oleh psikologi lintas budaya (Berry, 1999).
3.      Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
Model Biomedis (Freund, 1991)memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konseb tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan  treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
4.      Pemahaman Tentang Penyakit
Istilah penyakit terbagi ke dalam dua istilah, yaitu Illness dan Disease. Kata Illness digunakan untuk menyatakan apa yang dirasakan oleh pasien ketika dia datang ke dokter. Sedangkan kata Disease untuk menyatakan apa yang dibawa pasien ke rumah sakit dari ruangan dokter. Dengan demikian penyakit “Disease” adalah sesuatu yang dimiliki organ, sedangkan “Illness” adalah sesuatu yang dimiliki manusia, yaitu respons subjektif pasien dan segala sesuatu yang meliputinya.
5.      Implikasi Perbedaan Konsep Kesehatan dan Penyakit terhadap Perilaku
Istilah-istilah yang digunakan dalam dunia kesehatan :
Diagnosis, gangguan yang sama dan bisa dilaporkan dengan gejala yang berbeda.
Treatmen, pengobatan sistem Barat bertumpu pada pemberian obat antibiotik atau pembedahan pada bagian-bagian tubuh yang sakit.
Plasebo, pada pengobatan Barat memiliki konotasi yang negatif sehingga sering kali dicoba untuk dihilangkan atau diminimalkan pengaruhnya oleh dunia kedokteran Barat.
Relasi dokter-pasien, pada sistem pengobatan Barat bercirikan mekanistik, impersonal, dan reduksionistik. Dokter mengambil sikap lebih tahu dari pasien, superior serta keputusan. Sementara pasien mengambil sikap pasif serta diharapkan menuruti apa yang dimaui dokter.
Ciri-ciri Tingkah Laku Sehat dan Normal
Adapun ciri-ciri individu yang normal atau sehat (Warga, 1983) pada umumnya sebagai berikut :
1.      Bertingkah laku menurut norma-norma sosial yang diakui
2.      Mampu mengolah emosi
3.      Mampu mengaktualkan potensi-potensi yang dimiliki
4.      Dapat mengikuti kebiasaan-kebiasaan sosial
5.      Dapat mengenali resiko dari setiap perbuatan dan kemampuan tersebut digunakan untuk menuntun tingkah lakunya
6.      Mampu menunda keinginan sesaat untuk mencapai tujuan jangka panjang
7.      Dapat belajar dari pengalaman
8.      Biasanya gembira

SUMBER :
Whitbourne,Halgin.Psikologi Abnormal.Jakarta:Salemba Humanika.201­­0

Kepribadian Yang Sehat dan Teori Perkembangan Freud & Erikson


·         Kepribadian Yang Sehat
             Apakah yang dimaksud dengan kepribadian yang sehat? Apakah diri kita sudah memiliki kepribadian yang sehat? Mungkin kita sampai saat ini belum mengetahui seperti apa kepribadian yang sehat, maka dari itu kita akan mempelajari seperti apa kepribadian yang sehat itu melalui beberapa kutipan di bawah ini.
             Sebagian besar orang Amerika mencari-cari kelompok, menyelidiki, dan menyingkapkan batiniah (dan badan) mereka dalam sensitivity sessions, T-groups, dan sejumlah bentuk encounter therapy lainnya. Penjahat-penjahat, pencandu-pencandu obat bius, para mahasiswa, para pendidik, para pemimpin perusahaan, generasi muda dan tua menemukan dalam pengalaman-pengalaman itu dimensi-dimensi dan segala potensi dalam kepribadian mereka yang tidak pernah disadari bahwa mereka memilikinya.
             Semua pokok tersebut menghasilkan dan merumuskan suatu kepribadian yang lebih sehat. Bentuk tekanan tidak begitu banyak pada konflik yang berhubungan dengan masa kecil dan luka emosional di masa lalu dibandingkan dengan pelepasan sumber-sumber yang tersembunyi dari bakat, kreativitas, energi, dan dorongan. Intinya adalah seseorang harus melihat ke masa depan akan seperti apa dirinya, bukan berpacu pada pengalamannya di masa lalu atau pada saat ini.
             Seseorang digambarkan sebagai suatu individu yang tersusun baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreativitas. Kita dapat dan harus mengatasi masa lalu, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan sekitar kita. Kita harus tumbuh dan berkembang melewati kekuatan-kekuatan yang secara potensial dapat menghambat. Gambaran ahli psikologi pertumbuhan tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya bahwa disetiap diri individu memiliki kapasitas untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, memenuhi kebutuhan pribadi sesuai dengan kemampuan kita.
             Manusia perlu memperjuangkan tingkat pertumbuhan yang lebih maju agar merealisasikan semua potensi yang dimilikinya. Semua itu membuktikan bahwa tidak cukup terbebas dari sakit emosional, tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikositis tidak cukup untuk menilai apakah seesorang sudah memiliki pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah awal yang diperlukan agar kebutuhan hidup terpenuhi. Kita pun harus bisa mencapai tingkatan yang lebih jauh lagi, dan yang terpenting adalah percaya akan kemampuan yang ada dalam diri kita bahwa kita mampu menjadi individu yang sehat mental dan berkembang, serta selalu berpikir positif. Kepribadian yang sehat adalah kepribadian yang memiliki kesehatan fisik dan juga mental. Jadilah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya dan tetap semangat menjalani kehidupan.

·         Teori Perkembangan Sigmund Freud
              Sigmund Freud adalah seorang bapak Psikososial. Freud membagi kepribadian ke dalam tiga aspek, yaitu ;
1.      Das Es (Id), yaitu aspek biologis
2.      Das Ich (Ego), yaitu aspek psikologis
3.      Das Ueber Ich (Super ego), yaitu aspek sosiologis
              Ketiga aspek tersebut merupakan bentuk kesatuan yang utuh sehingga sulit untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkahlaku manusia.
              Freud adalah seorang ahli yang pertama kali mengutamakan aspek perkembangan (genetis) dari kepribadian, terutama yang menekankan peranan yang menentukan permulaan masa kanak-kanak dalam meletakkan dasar-dasar dari struktur kepribadian.
              Kepribadian telah terbentuk pada akhir tahun kelima, dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar. Masa kanak-kanak adalah masa yang memiliki peranan yang menentukan munculnya neurosis pada tahun-tahun berikutnya.
              Freud beranggapan bahwa anak-anak adalah ayah dari manusia “The Child is The Father of Man”. Kepribadian itu berkembang dalam hubungan dengan empat macam sumber ketegangan :
1.      Proses pertumbuhan fisiologis
2.      Frustasi
3.      Konflik
4.      Ancaman
              Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian.

·         Teori Perkembangan Erickson
  
              Erikson juga seorang tokoh Psikososial dan dia membagi perkembangan menjadi delapan tahap perkembangan.  Akan tetapi, pada empat tahap pertama terjadi pada masa bayi,tahap kelima pada masa adolesen, dan tiga tahap selanjutnya pada tahun-tahun dewasa dan usia tua. Adapun tahap-tahap perkembangan itu adalah :
1.      Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar
Kepercayaan dasar pertama terbentuk selama tahap sensorik-oral dan diperlihatkan oleh bayi melalui kapasitasnya untuk beristirahat (tidur), makan dengan nyaman, dan membuang kotoran dengan santai. Situasi-situasi yang menyenangkan dan orang-orang yang bertanggungjawab menimbulkan kenyamanan ini menjadi akrab dan dikenal oleh bayi. Kecurigaan dasar yang ada pada pokoknya adalah esensial bagi perkembangan manusia. Perbandingan antara kepercayaan dasar dan kecurigaan dasar mengakibatkan tumbuhnya pengharapan.
2.      Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap ini anak mulai memahami apa yang diharapkan dirinya, apa kewajiban yang harus dipenuhinya, dan hak yang dia peroleh. Untuk mengendalikan sifat penuh kemauan anak, orang dewasa akan memanfaatkan kecenderungan iouniversal pada individu untuk memiliki rasa malu. Kemauan adalah kemampuan untuk membuat pilihan bebas, memutuskan, melatih mengendalikan diri, dan bertindak yang terus meningkat.
3.      Inisiatif vs Kesalahan
Inisiatif bersama-sama dengan otonomi memberikan kepada anak suatu kualitas sifat mengejar, merencanakan, serta kebulatan tekad untuk menyelesaikan tugas-tugas dan meraih tujuan. Anak mulai ingin belajar dan dapat belajar dengan baik pada usia ini.
4.      Kerajinan vs Inferioritas
Pada tahap ini anak diharuskan mengontrol daya imajinasinya dan mulai belajar pendidikan formal. Anak mulai mgembangkan sikap rajin dan mempelajari apa yang dapat dia peroleh dari sikap rajinnya. Dampak dari tahap ini adalah anak bisa mengembangkan perasaan rendah diri bila dia tidak berhasil menguasai tugas yang diberikan oleh orang lain.
5.      Identitas vs Kekacauan Identitas
Pada tahap ini individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa dia adalah manusia unik tetapi tetap mampu menjalani peranan yang ada di lingkungan. Inilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah dia saat ini dan apa yang akan dia lakukan di masa depan. Daya penggerak batin dalam rangka pembentukan identitas adalah ego dalam aspek-aspek sadar maupun tidak sadar. Hal itu mengakibatkan terjadinya kekacauan identitas pada diri orang dewasa.
6.      Keintiman vs Isolasi
Pada tahap ini individu yang memasuki dewasa awal sudah mulai siap dan ingin menyatukuan identitasnya dengan orang lain. Mereka ingin memiliki hubungan persahabatan yang akrab dan rasa persaudaraan untuk menjalin komitmen-komitmen meskipun harus berkorban. Nilai cinta muncul selama tahap perkembangan keintiman dan cinta menjadi hal yang dominan.
7.      Generativitas vs Stagnasi
Ciri utama pada tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan keturunan, produk-produk, ide-ide, dan penetapan pedoman untuk generasi masa depan. Manusia sebagai suatu spesies memiliki kebutuhan inheren untuk mengajar, suatu kebutuhan yang dimiliki oleh semua orang dalam setiap bidang pekerjaan. Semua aspek kehidupan harus dipelihara dan dilindungi, sebab semua itu merupakan pengalaman yang berharga.
8.      Integritas vs Keputusasaan
              Integritas merupakan tahap terahir dari pemikiran Erikson. Integritas digambarkan sebagai keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda dan orang-orang, produk-produk, dan ide-ide, dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilandan kegagalan hidup. Keputusasaan merupakan lawan dari integritas.
·        
 Perkembangan Kepribadian 
 
              Perkembangan kepribadian seseorang menurut Murphy terbagi menjadi beberapa fase-fase perkembangan. Fase perkembangan kepribadian itu terbagi menjadi tiga fase, yaitu :
1.      Pada fase pertama, yaitu fase keseluruhan tanpa diferensiasi, individu berbuat lebih sebagai keseluruhan terhadap keseluruhan situasi, seperti halnya pada bayi.
2.      Pada fase kedua, yaitu fase diferensiasi, fungsi-fungsi khusus mengalami diferensiasi dan muncul dari keseluruhan.
3.      Pada fase ketiga, yaitu fase integrasi, fungsi-fungsi yang sudah mengalami diferensiasi itu diintegrasikan dalam suatu unitas yang berkoordinasi dan terorganisasi.
              Murphy juga berpendapat bahwa belajar adalah sebagai bentuk dari proses perkembangan. Proses belajar terjadi dikarenakan adanya proses interaksi antara setiap individu dengan lingkungan tertentu. Sebagai hasil dari interaksi tersebut maka terbentuklah koneksi antara kebutuhan-kebutuhan dan segala respon, antara tegangan dengan tingkahlaku yang mengubah tegangan tersebut.
              Selain itu, Murphy pun berpendapat bahwa sosialisasi juga merupakan bentuk perkembangan. Para ahli lain pun berpendapat bahwa perkembangan digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu perkembangan sebagai proses asosiasi, diferensiasi, dan perkembangan sebagai proses sosialisasi.
              Pentingnya faktor sosio-kultural di dalam perkembangan kepribadian. Murphy menganggap faktor sosio-kultural dapat mempengaruhi kepribadian dalam empat cara, yaitu :
1.      Masyarakat memiliki suatu rangkaian kode yang menjadi tujuan persyaratan anak-anakyang hidup di dalamnya. Misalnya pada anak-anak apabila menerima dan memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kiri itu adalah hal yang tidak sopan, maka dalam diri seseorang sudah tertanam nilai kesopanan di dalam dirinya karena hal tersebut merupakan tuntutan dari lingkungan sekitarnya.
2.      Masyarakat dengan melalui lembaga menjadikan anak-anak untuk mengaktualisasikan energi mereka. Menunjukan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
3.      Masyarakat dengan hadiah dan hukuman dapat mengubah segala dorongan impulsif menjadi dorongan yang lebih dapat diterima oleh masyarakat. Akan tetapi dorongan tersebut tidak benar-benar hilang 100%, karena suatu saat dapat muncul kembali.
4.      Masyarakat dapat mempengaruhi proses-proses perseptual dan kognitif para anggotanya secara sedemikian rupa, sehingga mereka akan belajar dan berpikir sesuai dengan norma yang berlaku di lingkuannya. Secara keseluruhan maka akan menciptakan keselarasan dalam masyarakat tersebut baik sikap dan sifat.
SUMBER :
Drs.Sumardi Suryabrata.Psikologi Kepribadian.Jakarta : PT.Rajagrafindo Persada.1982
Duane Schultz.Psikologi Pertumbuhan Model-model kepribadian Sehat.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.1991
Dr.A.Supratiknya.Teori-teori Psikodinamik(Klinis).Yogyakarta:Penerbit Kanisius.1993